Artikel

Faqih Alawi Serukan Hari Santri jangan hanya Meromantisasi Kejayaan Masalalu, Warisi Semangatnya untuk Menyelesaikan domain Masalah Hari ini.

24 Oktober 2026   Nuriz Zaman

Sudah saatnya Hari Santri dimaknai sebagai momentum refleksi dan konsolidasi. Meromantisasi masa lalu memang penting untuk membakar motivasi, tetapi menyelesaikan masalah keumatan hari ini adalah kewajiban sejarah. Jika para santri di masa lalu mengangkat senjata melawan penjajah, maka santri hari ini harus menunjukkan aksi nyata untuk melawan kolonialisme gaya baru yang terjadi. Kolonialisme tidak lagi menjajah teritorial secara langsung, melainkan menjajah kedaulatan ekonomi, merusak ruang hidup, dan melanggengkan ketidakadilan sistemik.


Dalam konteks kekinian, para santri seharusnya tidak lagi terjebak pada isu-isu anomali etis atau eskatologis, melainkan berdiri di garis depan menghadapi berbagai krisis structural dan ketidak adilan. Santri harusnya sudah tidak hanya menjadi penakar dosa atau hukum fiqih dari setiap kejadian, mereka harusnya ada dibarisan paling depan dalam melawan kerusakan iklim, ketimpangan ekonomi, kekacauan birokrasi dan praktik-praktik korupsi.


Saat ini, bangsa kita dihadapkan pada tiga persoalan pelik: krisis ekologi akibat perusakan hutan dan perampasan tanah demi keuntungan segelintir elite, ketimpangan ekonomi serta ketergantungan pada asing yang mencederai kedaulatan, belum lagi korupsi dan kacaunya tatanan birokrasi yang merusak masa depan rakyat. Di tengah situasi ini, semangat santri harus menjelma menjadi gerakan perlawanan yang lantang, berani, dan tanpa kompromi.


Jika muasis kita menyelesaikan permasalahan penjajah dimasa lampau kita warisi semangatnya dengan menyelesaikan kolonialisme baru hari ini. Semangat perlawanan harus terus diwariskan, sudahi bertopeng menghormati yang kita sebut dengan imam (pemerintah), sebab sudah terjadi fragmentasi kekuasaan, kekuasaan hari ini berbeda dengan definisi kekuasaan masa lampau baik demokrasi ataupuni kesultanan.

Orator : Muhammad Faqih Alawi