Feminisme Sulit Tumbuh di Indonesia Karena Perempuannya Banyak yang Ingin di Istimewakan

Selama ini, kita sering mendengar narasi bahwa perempuan harus memiliki hak yang sama di ruang publik, kita menyebutnya sebagai perjuangan kesetaraan. Namun, jika kita melihat pola perilaku yang muncul, saya harus berani mengatakan hal yang pahit: Sebagian dari kita sebenarnya tidak sedang memperjuangkan kesetaraan, melainkan sedang memaksakan keinginan.
Baru-baru ini kita mendengar pernyataan mentri PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang mengusulkan gerbong depan dan belakang agar di isi laki-laki sementara gerbong tengah untuk perempuan.
Menempatkan laki-laki di depan dan belakang hanya untuk menyerap benturan fisik adalah bentuk dehumanisasi. Laki-laki tidak lagi dipandang sebagai manusia yang memiliki hak atas rasa aman yang sama, melainkan hanya dianggap sebagai aset keamanan atau properti fisik (buffer). Ini menciptakan persepsi bahwa nyawa laki-laki “lebih murah” atau lebih layak untuk dikorbankan dalam situasi darurat.
Kesetaraan menuntut tanggung jawab yang sama, kepatuhan hukum yang sama, dan kesadaran akan risiko yang sama. Namun, apa yang kita lihat ? Menuntut dihargai secara setara, namun menolak untuk dinilai secara objektif.
Paradoks “Diratukan” di Tengah Arus Kesetaraan
Dalam urusan kencan misalnya, laki-laki tetap dianggap wajib menjemput, membayar seluruh tagihan, dan memberikan pelayanan ekstra sebagai bukti “effort”, sementara di sisi lain, wanita menuntut hak dan posisi yang sejajar dalam segala aspek kehidupan. Sebuah fakta paradoksal antara ingin diratukan sementara menuntuk kesetraan.
Ketidakkonsistenan ini menciptakan kesan bahwa kesetaraan hanya diterapkan ketika memberikan keuntungan, sementara hak istimewa tradisional tetap dipertahankan sebagai standar pelayanan. Jika kita ingin dianggap setara, maka mulailah dengan mengakui bahwa resiko dan tanggung jawab yang kita miliki sama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *